Get Adobe Flash player
October 2017
M T W T F S S
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Griya

Dalam kehidupan sosial maupun individu seseorang, tentunya tidak lepas dari nilai-nilai seni. Nilai-nilai seni ini meliputi nilai intrinsik dan ekstrinsik. Secara sadar maupun tidak disadari, seni sudah menjadi sesuatu yang melekat, yang selalu ada di sekitar kita. Namun fakta yang ada, hanya segelintir dari sekelompok masyarakat yang menyadari bahwa seni melekat dalam kehidupan. Hal yang mendasar tersebut itulah yang membuat kita kembali ke dasar untuk memahami keberadaan seni tersebut.

Sebagai wujud usaha mengidentifikasi keberadaan seni yang merangkumdasar penciptaan dari seniman dalam mengolah dan mengkompisisikan semua unsur rupa kedalam sebuah karya, khususnya bagi masyarakat pendidikan seni rupa Indonesia, kegiatan Art Edu Care kembali digelar ke-empat kalinya dengan  mengusung tema Art Edu Care # 4 “Back to Basic”.

Setiap benda yang digunakan dalan keseharian manusia pasti memiliki segi seni. Manusia akan menciptakan  Hanya saja sekarang ini masyarakat sering melupakan posisi seni itu sendiri dan hanya memperhatikan segi fungsi saja. Thomas Munro menyatakan bahwa seni adalah alat buatan manusia yang dibuat untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya. Tidak ada satu pun segi kehidupan manusia yang tidak dapat diungkapkan dalam seni . Dalam nilai seni, dibagi menjadi dua golongan yakni nilai intristik dan ekstrinsik. Nilai intristik adalah nilai yang hakiki dan bersifat mutlak. Nilai ekstrinsik sendiri merupakan nilai yang tidak langsung menentukan suatu karya seni, melainkan berfungsi mendukung, memperkuat kehadiran karya seni itu dan bersifat melengkapi.

Dalam konteks kekaryaan juga tidak terlepas dari esensi kesenian seperti di atas. Seniman dituntut untuk mampu menghasilkan karya baik dua dimensi ataupun tiga dimensi dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dasar seni. Karya seni haruslah indah, walaupun indah merupakan objektifitas yang bersumber pada sudut subjektifitas. Dengan demikian tema Art Edu Care # 4 “Back to Basic”diusung untuk merangkum hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar penciptaan seorang seniman dalam mengolah dan mengkompisisikan semua unsur rupa kedalam sebuah karya.

Tak berlebihan kiranya jika kami sebagai penyelenggara mengharapkan kegiatan ini sebagai sebuah wadah berkumpulnya masyarakat pendidikan seni rupa Indonesia. Karena kegiatan ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah kami rintis semenjak tiga tahun lalu.Pada tahun 2010 kami melaksanakan kegiatan Art Edu Care yang melibatkan 7 LPTK Negeri se- Jawa (Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP  UNS, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNY Yogyakarta, dan Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNNES Semarang, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNJ, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI Bandung, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNESA Surabaya, dan Jurusan Pendidikan Seni Rupa UM Malang).

Tahun berikutnya, tepat pada tanggal 11-15 Maret 2011 telah terlaksana Art Edu Care # 2: Let’s Care to Culture yang melibatkan 8 LPTK Negeri se-Jawa dan Bali (dengan tambahan peserta dari Prodi Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNDIKSHA Bali).

Kegiatan kami dalam kesenirupaan pun tak terhenti begitu saja. Pada tahun 2012, kegiatan Art Edu Care kembali kami usung. Dengan tema Art Edu Care #3 : Berbeda-beda Tetap Satu Rupa yang melibatkan seluruh LPTK Negeri se-Indonesia dan Malaysia (Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP  UNS, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNY Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNNES Semarang, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNJ Jakarta, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI Bandung, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNESA Surabaya,Jurusan Pendidikan Seni Rupa UM Malang, Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNDIKSHA Bali, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Padang, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Univeritas Negeri Medan, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makasar, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Manado, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Sekolah Tinggi Seni Papua,).

Tahun 2013 ini merupakan tahun ke-empat yang mana telah menghadirkan optimisme bagi kami bahwa kegiatan yang rutin setiap tahun ini sudah saatnya dilaksanakan dengan skala yang lebih luas dari tahun sebelumnya. Dengan modal awal yang hanya berupa jaringan antar LPTK se-Indonesia, tak berlebihan kiranya jika tahun ini kami mengharapkan partisipan dari beberapa LPTK Malaysia. Bukan semata karena ingin mengejar skala kegiatan yang lebih besar, melainkan memang sudah waktunya kita memperbincangkan arah pendidikan seni rupa yang tidak hanya terpaut di Indonesia saja melainkan dengan menghadirkan wakil dari negara tetangga. Agar kita dapat melihat suatu gambaran yang utuh tentang perkembangan dunia pendidikan seni rupa di Indonesia dan di Negara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>